Tag Archives: Etos Bandung

Desa Produktif Etos Bandung : Harta Karun yang Terpendam

Despro (Desa Produktif) adalah salah satu program pembinaan yang ada di Beastudi Etos Bandung. Despro merupakan trobosan baru dari program yang dahulunya bernama Sekolah Desa Produktif. Desa Produktif akan mulai dijalankan dan diinisiasi pada tahun 2014 ini tepatnya pada semester ganjil perkuliahan. Tujuan dari Despro merupakan salah satu isi dari Tridaharma Perguruan Tinggi yaitu pengambian masyarakat. Ya, benar, Despro bisa juga diartikan sebagai pengabdian masyarakat dari penerima kebermanfaatan Beastudi Etos Bandung.

Harapan dari terbentuknya program baru 2014 yang terintegrasi ini adalah agar kebermanfaatan yang diberikan tidak hanya berfokus pada pengembangan potensi sekolah dalam konteks Sekolah Desa Produktif (SDP), tapi bisa berefek pada aspek-aspek masyarakat desa dalam konteks Desa Produktif (Despro). Program dari Desa Produktif ini nantinya akan diintegrasikan selama 10 tahun pada tahapan pengembangannya sampai pola dari pergerakan masyarakat desa sudah seirama dengan pola pengembangan desa yang telah direncanakan.

Minggu , 15 Juni 2014, Saya dan Nurul memperkenalkan secara langsung perwakilan dari Beastudi Indonesia Pusat, diwakili oleh Mas Angger, mengenai Sekolah Desa Produktif yang sudah kita jalani selama satu tahun ini yang merupakan ragkaian acara MONEV (Monitoring dan Evaluasi) dari pusat.  Karena Sekolah Desa Produktif daerah Bandung memiliki dua daerah binaan maka Untuk sesi pagi , Mas Angger berkunjung ke Nanggerang , Sekolah Desa Produktif Jatinanggor dan untuk sesi siang, Mas Angger ditemani oleh Saya berkunjung dan ngobrol bareng sama Karang Tanuna di Desa Pasir Ipis, Lembang. Sayangnya untuk di Desa Pasir Ipis , Mas Angger tidak bisa bertemu langsung dengan perwakilah sekolah yaitu Pak Didin karena guru-guru sedanga medapatkan pelatihan tentang kurikulum 2013.

Di Desa Pasir Ipis , Kita langsung ngobrol bareng di Taman Baca Masyarakat yang sedang dalam tahap penyempurnaan oleh teman-teman Karang Taruna. Di sana kita di sambut hangat oleh teman-teman Karang Taruna. Dari obrolan yang sangat seru, Mas Angger kagum dengan potensi Desa Pasir Ipis. Desa Pasir Ipis merupakan desa yang penuh dengan banyak potensi dari hasil alamnya yaitu susu, strawberry, pisang , dan sayuran, dari pariwisata, Desa ini dalam tahap perencanaan akan dikembangkan menjadi desa pariwisata dengan daya tarik penemuan benteng Belanda di sepanjang perbukitan desa.

Setelah berkunjung ke Desa Produktif Jayagiri dan Nanggerang , Saya, Mas Anger dan Nurul melanjutkan diskusi bareng mengenai evaluasi program-program yang telah kita laksanakan satu tahun ini dan sekaligus membicarakan pengembangan program Sekolah Desa Produktif menjadi Desa Produktif dengan skala program yang lebih besar karena berbasis pengembangan desa.

Satu hari bersama SDP ini memang sangat luar biasa . Saya mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan dari Mas Angger yag sudah berpengalaman dalam program social berbasis pengembangan desa. Mas Angger mengingatkan bahwa sebelum kita bergerak jauh keluar maka benahilah dulu sisi internal. Karena sehebat apapun program yang kita buat takkan jalan tanpa pergerakan dari dalam.

“Pengembangan itu butuh tahap, tahapan itu adalah sebuah proses yang terintegrasi, Belajarlah darinya dengan komitmen dan konsisten , maka Inyaallah keberhasilan senantiasa bersamamu ”